Senin, 03 Februari 2014

Indonesia Dilanda Krisis Kepemimpinan

Buenas noches, todos (selamat malam, semuanya). Lagi pada ngapain nih? Kali ini aku mau post tentang krisis kepemimpinan yang dilanda Indonesia saat ini. Selamat membaca :)

mandela

Tokoh rekonsiliasi Nasional Afrika Selatan, Nelson Mandela  telah membawa bangsanya, dari negara rasialis menjadi negara demokratis merdeka. Filosofi kepemimpinan Nelson Mandela adalah kepemimpinan dimulai dari hati untuk melayani rakyat  bukan untuk dilayani.  Nelson Mandela seorang pemimpin yang melayani rakyatnya.

Kepemimpinan Lee Kuan Yew dari Singapura yang  cenderung otoriter, elitis, dan dianggap tidak demokratis,  tapi Lee telah
leekuanyew
leekuanyew
membawa  Singapura menjadi  negara maju di dunia, walaupun mempunyai sedikit penduduk dan minimnya sumber daya alam. Menurut keyakinannya, Singapura akan tetap maju meskipun tidak memiliki sumber daya alam yang memadai, karena kunci dibalik kemajuan Singapura adalah kemauan dan tekat penduduknya.

Sistem kenegaraan kita di era Reformasi ini  sesungguhnya dapat menelorkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas   bagi bangsa ini. Perkembangan demokrasi di Indonesia telah menghasilkan anggota DPR-RI periode 2009 – 2014  yang terpilih melalui proses demokrasi yang lebih matang. Demikian pula pemilihan Presiden dan Wakil Presiden telah dipilih secara langsung.  Proses demokrasi yang matang ini  akan   mendorong wakil –wakil  rakyat   untuk meningkatkan kinerja dan kualitasnya dalam mengemban fungsi sebagai wakil rakyat, yaitu    fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Proses Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung dan demokratis juga mendorong pemimpin nasional  bersikap  efektif yang akan diikuti oleh yang  lainnya.

Disamping itu, amandemen UUD tahun 1945 telah pula menghasilkan perubahan kontruksi hubungan kekuasaan eksekutif dan legislative dimana hubungan ini merupakan suatu hubungan ketatanegaraan  yang didasarkan pada  system  dan mekanisme checks and balances antar cabang kekuasaan negaraDengan demikian, mereka yang menjadi pemimpin  dapat menjadi pemimpin yang efektif,  melayani rakyat dengan baik dan tidak akan menjadi arogan dan egoistis.

Memahami kenyataan yang ada, wajar rakyat  menggerutu dan  mengurut dada.  Ditengah  pelaksanaan demokrasi Liberal di era reformasi ini  banyak  para  pemimpin  hanyut dalam pragmatisme politik. Hegemoni demokrasi liberal telah mengacaukan   nilai-nilai falsafah bangsa.   Individualisme  telah mengalahkan kolektivisme. Para pemimpin   banyak yang menjadi kapitalis dan narsis. Hiruk pikuk perpolitikan Indonesia  moderen yang  elitis, telah mengkhianati nilai-nilai luhur   bangsa . Harga yang harus kita bayar disini  adalah fakta, bahwa sedikit demi sedikit kita kehilangan jati diri ke-Indonesia-an dan kita sibuk  menghadapi  konflik social baik horizontal maupun vertical.

Dewasa ini ada penjungkirbalikan logika, moral dan nilai sehingga yang salah dapat menjadi benar dan yang benar dapat menjadi salah. Sejahtera ukurannya relative dan ukurannya  tidak pernah jelas. Bangsa ini sedang kehilangan ukuran-ukuran moral  dalam menjalankan kehidupannya.

Sementara itu,  terlihat bahwa mereka yang menjadi pemimpin tidak memberikan teladan, hanya pintar berpidato dan sibuk membangun citra.  Yang menyakitkan lagi, banyak pemimpin yang bertingkah aneh – aneh menyulitkan lingkungannya. Keinginan untuk melayani rakyat minus sekali  dan mereka juga enggan mendapat masukan dari orang lain. Matanya  tidak bisa melihat, telinganya  tidak bisa  mendengar dan hatinya  tidak bisa  merasa. Pemimpin kita banyak yang  arogan dan egois dan  tamak pada kekuasaan.  Ketamakan pada kekuasaan mulai  mendikte sikap dan perilakunya dan merasa diri paling hebat sehingga  saling mencederai dalam bersaing merebut kekuasaan dan kepentingan tanpa menggunakan etika  yang santun.

Negeri ini sedang dilanda krisis kepemimpinan, itu isu yang sedang ramai   digunjingkan. Dan sayup-sayup disuarakan pula betapa rakyat sangat  mendambakan pemimpin yang efektif. Menurut Peter  F. Drucker, pemimpin yang efektif  bukan pemimpin  yang pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai, tetapi  tergambar dari hasil kerjanya. Hal ini akan berarti bahwa Pemimpin efektif adalah pemimpin yang mempunyai sense of urgency dan mampu mengambil keputusan  serta mampu menetapkan kebijakan strategis. Dari  segi moral, pemimpin efektif adalah pemimpin yang tidak menggunakan kekuasaan demi kehormatan dan keagungan pribadi tetapi selalu terus bertanya  tentang hal -  hal  terbaik yang bisa dilakukan untuk rakyat atau demi kepentingan banyak orang.

Dalam kenyataan politik kekinian, terdapat fakta bahwa cara cara personal branding yang di adopsi dari ilmu pemasaran, telah memasuki dunia politik dan dimanfaatkan oleh para politisi untuk mendapatkan dukungan. Branding yang telah terbukti didunia bisnis selama ratusan tahun dalam memasarkan produk produk, telah terbukti juga dalam keberhasilannya dalam pertarungan politik. Dengan menggunakan marketing politik ini, seorang politisi atau partai yang terbukti nyata-nyata tidak berpihak kepada rakyat, tetap dapat memenangkan pertarungan dalam pemilihan umum. Pemilih Indonesia tidak semuanya melek informasi, tentang keburukan citra sebuah partai atau politisi melalui kebijakan kebijakannya. Banyak petani yang ada dipelosok tidak tahu, bahwa kenaikan BBM didukung oleh partai mana, dan mungkin juga tidak tahu kalau kenaikan BBM itu mensengsarakan mereka. Kampanye atas kebaikan kebijakan kenaikan BBM dan pencitraan oleh Presiden, para menteri seperti yang dilakukan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan, seakan menutupi dampak buruk dari kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat. Ilmu marketing politik tidak bisa ditahan kedatangannya, yang dapat dilakukan adalah menggunakan ilmu tersebut untuk memajukan politisi politisi bersih.

Persoalannya adalah untuk menggunakan personal branding, atau marketing politik, diperlukan dana yang tidak sedikit. Kampanye lewat televisi, radio dan media lainnya membutuhkan dana ratusan juta bahkan milliaran rupiah. Dampaknya yang akan berhasil maju adalah orang-orang berduit, banyak modal dan kemungkinan besar akan menjadikan Anggaran Negara sebagai sapi perahan.

Memang tidak mudah mencari solusi dari masalah ini, setidak tidaknya kita harus meyakini bahwa tidak ada yang kebetulan didunia ini, semua diatur oleh yang kuasa. Semoga campur tangan YANG KUASA melalui Invisible Handnya akan dapat meluruskan arah kehidupan bangsa ini. Dan tentu saja selain berdoa dengan penuh hikmat, kita tetap harus berusaha semaksimal mungkin. Memajukan politisi politisi bersih, melalui teknik “Marketing Politik”. Mari kita pelajari marketing politik yang diteliti oleh Firmanzah, agar kita tidak kalah dengan politisi politisi busuk yang merusak Negara. (http://www.mardetymardinsyah.com/wp-content/uploads/2012/03/marketing_politik_-_firmanzah.pdf)

Rakyat tentu sangat mengharapkan agar ada banyak pihak yang terpanggil untuk membenahi aspek kepemimpinan di negeri ini. Rakyat telah merindukan pemimpin – pemimpin    yang tangguh, bertanggungjawab, bermoral dan penuh strategi. Inilah saatnya kita bersatu padu, untuk memajukan para politisi politisi bersih dalam panggung politik, agar kehidupan menjadi lebih baik. Sekian dan terimakasih telah membaca.

Sumber : http://www.mardetymardinsyah.com/2012/03/29/indonesia-dilanda-krisis-kepemimpinan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar