Buenas noches, todos (selamat malam, semuanya). Lagi pada ngapain nih? Kali ini aku mau post tentang krisis kepemimpinan yang dilanda Indonesia saat ini. Selamat membaca :)

Kepemimpinan Lee Kuan Yew dari Singapura yang cenderung otoriter, elitis, dan dianggap tidak demokratis, tapi Lee telah
membawa Singapura menjadi negara maju di dunia, walaupun mempunyai sedikit penduduk dan minimnya sumber daya alam. Menurut keyakinannya, Singapura akan tetap maju meskipun tidak memiliki sumber daya alam yang memadai, karena kunci dibalik kemajuan Singapura adalah kemauan dan tekat penduduknya.
Sistem kenegaraan kita di era Reformasi ini sesungguhnya dapat menelorkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas bagi bangsa ini. Perkembangan demokrasi di Indonesia telah menghasilkan anggota DPR-RI periode 2009 – 2014 yang terpilih melalui proses demokrasi yang lebih matang. Demikian pula pemilihan Presiden dan Wakil Presiden telah dipilih secara langsung. Proses demokrasi yang matang ini akan mendorong wakil –wakil rakyat untuk meningkatkan kinerja dan kualitasnya dalam mengemban fungsi sebagai wakil rakyat, yaitu fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Proses Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung dan demokratis juga mendorong pemimpin nasional bersikap efektif yang akan diikuti oleh yang lainnya.
Disamping itu, amandemen UUD tahun 1945 telah pula menghasilkan perubahan kontruksi hubungan kekuasaan eksekutif dan legislative dimana hubungan ini merupakan suatu hubungan ketatanegaraan yang didasarkan pada system dan mekanisme checks and balances antar cabang kekuasaan negara. Dengan demikian, mereka yang menjadi pemimpin dapat menjadi pemimpin yang efektif, melayani rakyat dengan baik dan tidak akan menjadi arogan dan egoistis.
Memahami kenyataan yang ada, wajar rakyat menggerutu dan mengurut dada. Ditengah pelaksanaan demokrasi Liberal di era reformasi ini banyak para pemimpin hanyut dalam pragmatisme politik. Hegemoni demokrasi liberal telah mengacaukan nilai-nilai falsafah bangsa. Individualisme telah mengalahkan kolektivisme. Para pemimpin banyak yang menjadi kapitalis dan narsis. Hiruk pikuk perpolitikan Indonesia moderen yang elitis, telah mengkhianati nilai-nilai luhur bangsa . Harga yang harus kita bayar disini adalah fakta, bahwa sedikit demi sedikit kita kehilangan jati diri ke-Indonesia-an dan kita sibuk menghadapi konflik social baik horizontal maupun vertical.
Dewasa ini ada penjungkirbalikan logika, moral dan nilai sehingga yang salah dapat menjadi benar dan yang benar dapat menjadi salah. Sejahtera ukurannya relative dan ukurannya tidak pernah jelas. Bangsa ini sedang kehilangan ukuran-ukuran moral dalam menjalankan kehidupannya.
Sementara itu, terlihat bahwa mereka yang menjadi pemimpin tidak memberikan teladan, hanya pintar berpidato dan sibuk membangun citra. Yang menyakitkan lagi, banyak pemimpin yang bertingkah aneh – aneh menyulitkan lingkungannya. Keinginan untuk melayani rakyat minus sekali dan mereka juga enggan mendapat masukan dari orang lain. Matanya tidak bisa melihat, telinganya tidak bisa mendengar dan hatinya tidak bisa merasa. Pemimpin kita banyak yang arogan dan egois dan tamak pada kekuasaan. Ketamakan pada kekuasaan mulai mendikte sikap dan perilakunya dan merasa diri paling hebat sehingga saling mencederai dalam bersaing merebut kekuasaan dan kepentingan tanpa menggunakan etika yang santun.
Negeri ini sedang dilanda krisis kepemimpinan, itu isu yang sedang ramai digunjingkan. Dan sayup-sayup disuarakan pula betapa rakyat sangat mendambakan pemimpin yang efektif. Menurut Peter F. Drucker, pemimpin yang efektif bukan pemimpin yang pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai, tetapi tergambar dari hasil kerjanya. Hal ini akan berarti bahwa Pemimpin efektif adalah pemimpin yang mempunyai sense of urgency dan mampu mengambil keputusan serta mampu menetapkan kebijakan strategis. Dari segi moral, pemimpin efektif adalah pemimpin yang tidak menggunakan kekuasaan demi kehormatan dan keagungan pribadi tetapi selalu terus bertanya tentang hal - hal terbaik yang bisa dilakukan untuk rakyat atau demi kepentingan banyak orang.
Dalam kenyataan politik kekinian, terdapat fakta bahwa cara cara personal branding yang di adopsi dari ilmu pemasaran, telah memasuki dunia politik dan dimanfaatkan oleh para politisi untuk mendapatkan dukungan. Branding yang telah terbukti didunia bisnis selama ratusan tahun dalam memasarkan produk produk, telah terbukti juga dalam keberhasilannya dalam pertarungan politik. Dengan menggunakan marketing politik ini, seorang politisi atau partai yang terbukti nyata-nyata tidak berpihak kepada rakyat, tetap dapat memenangkan pertarungan dalam pemilihan umum. Pemilih Indonesia tidak semuanya melek informasi, tentang keburukan citra sebuah partai atau politisi melalui kebijakan kebijakannya. Banyak petani yang ada dipelosok tidak tahu, bahwa kenaikan BBM didukung oleh partai mana, dan mungkin juga tidak tahu kalau kenaikan BBM itu mensengsarakan mereka. Kampanye atas kebaikan kebijakan kenaikan BBM dan pencitraan oleh Presiden, para menteri seperti yang dilakukan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan, seakan menutupi dampak buruk dari kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat. Ilmu marketing politik tidak bisa ditahan kedatangannya, yang dapat dilakukan adalah menggunakan ilmu tersebut untuk memajukan politisi politisi bersih.
Persoalannya adalah untuk menggunakan personal branding, atau marketing politik, diperlukan dana yang tidak sedikit. Kampanye lewat televisi, radio dan media lainnya membutuhkan dana ratusan juta bahkan milliaran rupiah. Dampaknya yang akan berhasil maju adalah orang-orang berduit, banyak modal dan kemungkinan besar akan menjadikan Anggaran Negara sebagai sapi perahan.
Memang tidak mudah mencari solusi dari masalah ini, setidak tidaknya kita harus meyakini bahwa tidak ada yang kebetulan didunia ini, semua diatur oleh yang kuasa. Semoga campur tangan YANG KUASA melalui Invisible Handnya akan dapat meluruskan arah kehidupan bangsa ini. Dan tentu saja selain berdoa dengan penuh hikmat, kita tetap harus berusaha semaksimal mungkin. Memajukan politisi politisi bersih, melalui teknik “Marketing Politik”. Mari kita pelajari marketing politik yang diteliti oleh Firmanzah, agar kita tidak kalah dengan politisi politisi busuk yang merusak Negara. (http://www.mardetymardinsyah.com/wp-content/uploads/2012/03/marketing_politik_-_firmanzah.pdf)
Rakyat tentu sangat mengharapkan agar ada banyak pihak yang terpanggil untuk membenahi aspek kepemimpinan di negeri ini. Rakyat telah merindukan pemimpin – pemimpin yang tangguh, bertanggungjawab, bermoral dan penuh strategi. Inilah saatnya kita bersatu padu, untuk memajukan para politisi politisi bersih dalam panggung politik, agar kehidupan menjadi lebih baik. Sekian dan terimakasih telah membaca.
Sumber : http://www.mardetymardinsyah.com/2012/03/29/indonesia-dilanda-krisis-kepemimpinan/
Sumber : http://www.mardetymardinsyah.com/2012/03/29/indonesia-dilanda-krisis-kepemimpinan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar